10 album terbaik yang mengubah industri musik indonesia

October 30, 2008

1. Badai Pasti Berlalu
Varioust Artist
Irama Mas 1977

Pola asmara di album ini tidak mendayu-dayu dan meremehkan logika.:

Munculnya album yg konon penjualan album orisinilnya sejak dirilis pada akhir tahun 1977 hingga sekarang telah mendekati angka 10 juta keping ini merupakan gagasan dari Eros Djarot yang juga pembuat music score film badai pasti berlalu besutan sutradara Teguh Karya. Bersama Yockie S. Prajogo dan Chrisye, ia pun berinisiatif merekam album ini. Sebetulnya di dalam film Badai Pasti Berlalu sudah ada 3 lagu, yaitu “Baju Pengantin” dan “Merpati Putih” yang dibawakan oleh Broery Pesolima, juga “Badai Pasti Berlalu” yang dinyayikan Berlian Hutahuruk, dari 3 lagu ini berkembang menjadi 12 lagulalu tambahan lagu dari Eros Djarot yang ditulis bersama Debby Nasution “Angin Malam,” “Semusim,” Khayalku,” dan “Cintaku” Selebihnya adalah lagu yang ditulis Eros Djarot bersama Chrisye, yaitu merepih “Merepih Alam” dan “Serasa”, Serta lagu tambahan tanpa lirik berjudul “E&C&Y” (Eros & Chrisye & Eros).
Kejenuhan iklim musik pop yang ditandai oleh maraknya “epigonisme”, tema penulisan lirik yang kian dangkal, musik yang dibuat serampangan, serta hanya mengejar nilai kuantitas belaka, mampu membuat album inimenyeruak sebagai pembaharu dalam musik pop.
Pertama album ini tidak memberikan porsi pada instrument gitar melainkan dominasi keyboard, dan menawarkan musik gaya Pseudo-Symphonic seperti yang ditularkan grup2 progressive-rock Eropa, mulai dari Ekseption, Yes dan Genesis.
Kedua Timbre Vokal Vokal Unik, Suara Sopran Berlian Hutahuruk dan Suara Tenor Chrisye.
Ketiga Pola lirik asmara yang dipaparkan Eros tidak terjebak dalam pola yang mendayu2 dan meremehkan logika. Misal nya lirik “Pelangi”
[i]Bagaikan langit berpelangi
Terlukis wajah dalam mimpi

2. Guruh Gipsy
Guruh Gipsy
Guruh Gipsy 1976

30 tahun kemudian album ini menjadi album paling banyak dicari orang:

Menariknya tematik lirik lagu yang tertuang dalam album ini masih relevan dengan situasi saat ini, padahal rentang waktunya sudah 32 tahun.
Pertautan antara Guruh dengan grup band Gipsy ini adalah semacam simbiosis mutualisme. Guruh yang sangat menguasai budaya Bali bertaut dengan Gipsy grup rock yang paham pakem rock progresif.
Proyek Guruh Gipsy ini di dukung oleh Guruh Soekarno Putera (Piano,Gamelan), Keenan Nasution (drum, vocal), Chrisye (vocal, bas), Roni Harahap (piano, keyboard), Oding Nasution (gitar), dan Abadi Soesman (synthesizers).
Guruh Gipsy adalah sebuah mahakarya yang menyita banyak pikiran, tenaga & pengorbanan dalam proses penggarapannya, dan album ini hanya dicetak sebanyak 5.000 keping ini harus melalui masa penggarapan yang sangat panjang dan melelahkan, di mulai bulan Juli 1975 dan berakhir pada November 1976.
Sebuah karya Eksperimental pun lahir. Naman tak semua orang mengenal maupun menikmati karya kolosal iniketika album ini dirilis ke pasaran. Tapi siapa nyana, 30 tahun kemudian, album ini menjadi album yangpaling banyak dicari orang. Album ini pun menjadi topic diskusi penggemar rock progresif di Eropa, Jepang dan Amerika.

3.Lomba Cipta Lagu Remaja 1978
Varioust Artis
DD Record 1978

LCLR 78 memberikan shock terapahy pada musik pop saat itu.:

Tidak ada lomba cipta lagu pop yang hasilnya begitu berpengaruh seperti Lomba Cipta Lagu Remaja yang di gelar di Jakarta pada 1978 (LCLR 78).
Lagu lagu yang lolos seleksi memperlihatkan progresi nada serta aransemen sangat komunikatif dan terbukti mampu bersaing di chart, sesuatu yang sangat jarang bisa dilakukan oleh produk sejenis. Tiga diantaranya adalah “Kidung” ciptaan Christ M. Manusama, yang dibawakan kelompok vocal Pahama (Bram, Diana & Christ) dari Yogjakarta, kerangka lagunya sederhana, sama sekali tidak mencerminkan jebolan sebuah festival, namun berhasil mencuri perhatian. Demikian terkenalnya lagu ini sampai sampai Orkes Pancaran Sinar Patromaks memparodikannya denagan jenaka.
“Khayal” (Ciptaan Christ & Tommy WS) yang dibawakan oleh Purnama Sultan, secara imajinatif keduanya sama-sama bercerita tentang harapan.
“Apatis” Diinperetasikan dengan sangat bagusoleh Benny Soebardja, Vokalis dan gitaris Giant Step. Aransemen lagu ini mengambil sisi kontras dari kelembutan “Kidung,” yakni permainan sound rock yang ekspresif pada gitar. Popularitas lagu ini turut melejitkan nama penciptanya “Inggrid Widjanarko”

4.Dheg Dheg Plas
Koes Plus
Melody 1969

Masyarakat menyebut mereka Bee Gees Jawa:

Tanggal 7 Nov 1970 merupakan hari bersejarah bagi dunia musik popular Indonesia. Saat itu Istora Senayan menjadi saksi dari sebuah momen musical yang akan mengubah wajah industri musik di negeri ini. Tiga Bersaudara Koeswoyo-yang kali ini ditemani seorang drummer “Plus” bernama Murry menjadi terdakwa untuk kedua kalinya dalam 5 tahun. Kesalahannya? Menginspirasi ratusan anak muda nusantara yang tergabung dalam grup-grup musik untuk membuat dan menyanyikan lagunya sendiri dalam sebuah formula. Formula tsb , pop a la Koes Plus, bahkan menjadi sebuah gelombang budaya massa di sepanjang paruh pertama dekade ’70-an.
Bee Gees bukan satu satunya pengaruh di album ini. Keliaran Eksplorasi Tonny Membawa Pengaruh Soul/r&b yang kasar maupun maupun psikedelia picisan pada momen-momen tertentu di lagu upbeat seperti “Dheg Dheg Plas” dan “Awan Hitam”. Bahkan lagu “Kelelawar” mengobral penuh groove soul/r&b kasar yang menghentak keras tak terbendung.Break-break primitifnya bahkan mengundang DJ hip hop kenamaan Cut Chemist untuk mencurinya. Pengaruh Stones (“Jumpin Jack Flash”) dan Freakbeat ’60-an yang hadir membuatnya menjadi salah satu pencapaian musikal terbaik terbaik album ini.
Sosok Murry pun nyaris mengubah total pendekatan musikal band tsb, gaya permainan drumnya yang cadas mengingatkan kita pada Keith Moon dari The Who- memberi sentuhan rock yang menampar nuka pada lagu-lagu dalam album ini, dan Tonny sebagai otak kreatif band ini memang sengaja menempatkan suara drum Murry dibagian depan hasil mixingan akhir album. Permainan drum Murry dan eksplorasi penciptaan lagu Tonny lah yang akhirnya menjadi tulang punggung album musikal Koes Plus yang kita kenal hingga sekarang.
Namun Bagi sebagian fans Koes Plus, Dheg Dheg Plas tidak masuk dalam hitungan mereka karena dianggap tidak murni, karena posisi Bass dalam sesi rekaman memang diisi oleh Toto A.R.

5.Suit-Suit He…He (Gadis Sexy)
Slank
Project Q 1991

Debut album ini menawarkan keliaran khas musisi baru:

Sebagian besar materi album ini sebenarnya sudah ditulis tujuh tahun sebelum albumnya dirilis pada 199. Itulah sebuah periode pencarian jati diri oleh sekelompok anak muda tanggung tanpa masa depan jelas, yang kerjaannya Cuma genjrang-genjreng, membuat lagu demi lagu tanpa mengetahui kapan kesempatan rekaman datang menghampiri.
Sebagian lagu yang terkumpul temanya berdasarkan kisah nyata. Misalnya “Aku Gila” pengalaman Bimbim, dia ditinggalkan ceweknya semata mata karena statusnya pengangguran. Juga ada “Memang” yang aslinya berirama country ballad , tapi pada suatu hari Pay iseng memainkan gitar yang hasilnya kemudian dianggap cocok dijadikan intro lagu tersebut, jadilah “Memang” sebuah karya upbeat. Hanya ada 2 lagu yang ditulis menjelang proses rekaman di mulai, yaitu “Maafkan” dan “Apatis Blues” Judul terakhir merepresentasikan ketidakberdayaan mereka atas situasi tanah air yang penuh kekacauan. Perkosaan moral, manipulasi, diskriminasi, permainan kekuasaan menjadi berita sehari-hari yang harus mereka telan.
Di album ini Pay bermain sangar dalam “Memang” dan “Suit-Suit He…He (Gadis Sexy)”. Keyboard Indra Qadarsih, yang semula seorang penggila Jazz, tiba tiba menyalak ekspresif. Bongky memberi dinamik dengan caranya sendiri dan berusaha tidak terjebak pada posisinya sebagai penjaga beat. Kaka menyanyi seolah-olah untuk menumpahkan kesumpekan. Bimbim menghajar drum dengan teknik simpel namun terasa dia lah sebenarnya kapten yang mengendalikan segala pola permainan.
Musisi pengangguran yang dulunya dianggap menggangu itu kini telah berubah menjadi the real superstar, semua itu dimulai dari album ini, album yang credit title-nya di buat oleh tulisan tangan yang peletakan foto personil nya terbalik. Kaskuser semua mungkin melihat mereka telah menjungkir balikan tatanan musik panggung dan rekaman.

6.Begadang
Oma Irama
Yukawi 1974

Dangdut yang dari yang semula di lecehkan sebagai musik kampungan kini menjadi milik siapa saja.:

Julukan raja dangdut untuk Oma Irama (Sekarang Rhoma Irama) memang tidak bisa dipungkiri.
Upaya Oma Irama, yang diawal karirnya pernah menyanyikan repertoire rock, memang bukan alang kepalang. Dia bereksperimen menyelusupkan atmosfer hard-rock dalam jelujur musik dangdutnya. Simak raungan gitar elektrik yang dimainkannya jelas mengacu pada music rock, terutama pengaruh Ritchie Blackmore, gitaris Deep Purple yang digemarinya. Ketika album ini di rilis pada tahun 1974 ternyata menuai pro dan kontra. Di pihak pemusik dangdut album ini disanggah lantarab diselusupi nuansa rock. Sedangkan dari kalangan penggemar rock, kehadiran Oma Irama dan Soneta dicibir dan menyulut perseteruan antara Oma dan dan Benny Soebardja, vokalis grup rock Giant Step.
Aroma dangdut yang lebih sophisticated terasa dialbum yang berisikan lagu-lagu seperti “Begadang,” “Sengaja,” “Sampai Pagi,” “Tung Kripit,” “Cinta Pertama,” “Kampungan,” “Ya Le Le,” “Tak Tega,” dan “Sedingin Salju.” Setelah berhasil mambaurkan dangdut dan rock, eksperimen yang dilakukan Oma Irama ini lalu diikuti Achmad Albar yang merilis album “Zakia” (1976) serta munculnya orkes tarantula yang digagas Reynold Panggabean dan Camelia Malik.
Dan kaskuser pun tau baru baru ini Oma melakukan pertunjukan akbar di USA dan seperti kita lihat, audience nya bukan cuma WNI saja, tetapi warga Negara Amerika pun hadir, dan mereka asyik bergoyang a la Dangdut

7. To the So Called the Guilties
Koes Bersaudara
Mesra 1967

Guilties adalah album protes pertama di Indonesia:

British Invasion berandil besar terhadap kelahiran album ini. Seperti layaknya seluruh grup musik seantero jagat saat itu, Koes Bersaudara sebagai kumpulan anak muda yang selalu peka akan trend dan ingin tampil beda turut mengemulasi gelombang tsb. Menyudahi konsep duo a la Everly Brothers yang berlaku pada album debut, empat bersaudara Koeswoyo meresponnya dengan potongan rambut panjang menutupi mata, baju seragam dan memilih format four-piece mengikuti santo-santo pembimbing asal Liverpool, The Beatles. Mereka menjadi penyambung lidah para Beatlemania di tanah air, memainkan repertoar barat yang saat itu dianggap Bung Karno sebagai bentuk kolonialisme dan imperialisme gaya baru. Koes Bersaudara pun dianggap antek barat yang tak memiliki rasa nasionalisme. Setelah pidato Bung Karno yang menghardik praktek musik ngak ngek ngok, pada tanggal 27 Juni 1965 Koes Bersaudara yang tengah beraksi menyanyikan lagu ‘I Want To Hold Your Hand’ pada sebuah pesta di kediaman Jendral Koesno di demo oleh sekelompok orang anti Nekolim. Keeseokan harinya mereka dijemput oleh utusan kejaksaan dan langsung dijebloskan kedalam penjara glodok tanpa alasan yang jelas, mereka baru dibebaskan hanya beberapa hari sebelum G30’S PKI. Dan setelah kebebasan itulah album ini rilis dan hanya Dick Tamimilah yang berani menaungi album ini di label Mesra miliknya.
Guilties memadukan amarah dengan garage rock Beatlesque khas pertengahan 60-an. Tonny sang otak kreatif band ini tdk dapat lagi menahan kemuakannya terhadap penguasa yang menjebloskannya ke penjara. Saat itu tidak ada lagu perlawanan selangsung “Poor Clown.” In English. Lagu ultra ngak ngik ngok yang seakan menyumpahi nadir rezim Bung Karno. Lagu dimana Tonny yang bernyanyi dalam rekaman untuk pertama kalinya, memuntahkan napalm dengan menggunakan seluruh elemen ekspresi yang dapat ia gunakan. Lagu cepat, keras, langsung, yang dikendarai oleh ritme kocokan gitar kotor yang terus memukul telinga hingga puncak dimana Tonny tak tahu lagi cara berkomunikasi dan membiarkan teriakan binatang terlukanya mengomandani solo gitar rock primitif yang chaotic.

8. Swami
Swami
Airo Production 1989

Bento” dan “Bongkar” sesungguhnya memiliki daya sangat tinggi.:

Sebuah mahakarya yang dirancang oleh segunung api kemarahan. Inilah potret lusuh dari negara super korup bernama Indonesia. Saat keadilan dibuang ke tong sampah, mencari sesuap nasi merupakan urusan hidup dan mati, kaum marjinal pun berubah menjadi anjing jalanan. Swami menangkap fenomena chaotic tsb dan meletupkannya melalui sederet lagu yang memeras emosi.
“Bento” salah satu hit terpopuler menyerupai satir hitam yang mengingatkan pada gaya Jean Paul Sartre. Menyerang kesewenang-wenangan dengan cara menertawakan diri sendiri pada dasarnya symbol dari ketidak berdayaan. Banyak pihak yang mempersonifikasikan tokoh Bento sbg Tommy Soeharto. Sepenggal liriknya memang bisa mengarah pada keyakinan itu.. “rumah real estate, mobilku banyak, harta berlimpah… atau wajahku ganteng, banyak simpanan, sekali lirik oke sajala.” Inisisrimenterjemahkan benang merah lagu ini dengan bagus. Ia mendesain pukulannya sangat ritmis, terdengar seperti omelan sekalius mengancam. Satu-satunya karya di album ini yang direkam secara Live, “Bento” menjadi prasasti keliaran duet Iwan Fals-Sawung Jabo.
Sementara “Bongkar” menjadi hymne yang menyuarakan kelelahan hilangnya harapan atas hak hidup. Kritik sosial ini disampaikan dalam kalimat telanjang, langsung ketitik permasalahan, sehingga awam sekalipun dengan mudah dapat menangkap kemana tema lagu tsb mengarah. Ditengah situasi ketika pemerintah semakin represif, melepas lagu dengan lirik provokatif seperti ini sungguh membutuhkan nyali yang tidak main-main.
Aransemen lebih berfungsi sbg ritem, kecuali gitar sedikit bermanuver pada interlude, sehingga memberi ruang kpd Iwan Fals untuk bernyanyi dengan penuh energi. Dan Kaskuser pun tau memang Swami lebih merupakan gerbong kreatif Iwan Fals setelah berbilang tahun tampil solo. Indikasi ini bukan Cuma tertulis pada cover album yang bertuliskan : Iwan Fals-Swami, melainkan 10 lagu semuanya ditulis Iwan Fals, hanya beberapa saja terlihat berkolaborasi dengan Sawung Jabo dan Naniel.
Masih banyak lagu lain lagi yang gak mungkin gue tulis semua. Dan kaskuser tau lagu “Condet (Nyanyian Ujung Gang).” Intronya yang menggambarkan kesejukan suasana pagi hari itu berkhir dengan sangat gelap.
Lalu “Bunga Trotoar” (Idenya berasal dari Setawan Djody)..
Udah banyak nih, kita ke 9 aja kaskuser.

9. 4 Through The Sap
PAS
Nova/Sap 1994

Album legendaris yang menginspirasi lahirnya gerakan bermusik independen ditanah air.:

Empat lagu yang mengubah wajah industri musik lokal untuk selamanya ini digelontorkan empat anak muda Bandung berusia 20-an yang sebelumnya kenyang ditolak major label di Jakarta. Apa yang mereka lakukan secara tidak langsung telah menuaikan posisi twar band-band amatir yang sebelumnya ditolak masuk industri dengan alasan tidak komersil atau tidak mengikuti selera pasar.
Album ini juga kemudian mengispirasi pula wilayah2 kebudayaan populer lainnya entah itu di film, buku, fashion, dsbnya. Langkah kecil pas-pasan yang dikemudian hari menjadi bola salju besar ini ikut membidani lahirnya industri musik independen lokal, ditandai dengan terbentuknya infrastruktur pendukung gerakan ini : Indie label, fanzine, distro, promoter dan mungkin blog.
Gebrakan yang dibuat Pas dengan merilis album ini seakan menjadi trigger bagi sebuah kudeta rock yang dijalankan milisi-milisi indie asal Bandung, Kesuksesan Pas kemudian menjadi inspirasi band-band underground berikutnya : Pure Saturday, Puppen, Jasad, Koil, Burgerkill, Cherry Bombshell, Full of Hate, The Changcuters dan banyak lagi.

10. Ken Arok
Harry Roesli
Eterna Record 1977

Karya serius Harry Roesli dengan nuansa tidak serius:

Bisakah album ini disebut sebagai album opera rock pertama di Indonesia?
Karya-karyanya memiliki benang merah yang nyaris sama dengan Frank Zappa, tokoh musik yang dikaguminya. Harry memang banyak menjuntai pada wilayah parodi dengan muatan satir disana-sini. Anasir itu pulalah yang mencuat dari opera rock yang diangkatdari kisah Ken Arok yang hidup pada abad ke 13. Dari introduksi, atmosfer tak serius memang telah terbaca, simak lirik awal opera rock ini: Aku Ken Arok yang engkau tunggu, Engkau beli kaset, mendengarku, Uang delapan ratus, tidak sedikit, Wahai teman kau tertipu ha ha ha, Coba jika uang itu kau belikan rujak asinan, Come on baby! Uangmu itu disaya….!
Opera rock Harry Roesli ini memang sengaja melanggar pakem-pakem opera yang sesungguhnya. Sekedar catatan, bahwa opera rock Tommy dari The Who, hingga Jesus Christ Superstar karya Andrew Lloyd Weber dan Tim Rice juga menuai kritik pedas disana-sini karena dianggap mbalelo.
Dalam album ini, Harry Roesli melakukan multi casting alias berperan ganda. Dia berperan sebagai Ken Arok, Mpu Gandring, Tunggul Ametung dan entah apa lagi. Dengan kelenturan vokal nya, Harry Roesli pada akhirnya lebih berperan seperti seorang dalang dalam tradisi pewayangan..
Untuk catatan kaskuser, bahwa opera rock diupayakan dengan semangat memberontak dari sisi seni maupun tema2 yang dicanangkan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: